Nadh's Blog

Posts Tagged ‘Psikologi Kepribadian

TUGAS MATAKULIAH PSIKOLOGI

Kepribadian dan Penilaiannya

Konsep Dasar Kepribadian

Secara umum, ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari cara untuk membentuk tingkah laku yang baru melalui proses asosiasi. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, dan juga oleh faktor genetik yang sudah ada sejak lahir. Lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian individu, namun relatif dapat diubah dengan cara mengubah lingkungannya. Dengan begitu, terdapat salah satu cabang ilmu psikologi yang cukup penting peranannya yaitu Psikologi Kepribadian.
Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan karena banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya. Namun Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola prilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Rita and Richard, 1993).

I. Kepribadian secara Umum
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
1.1 Kepribadian Menurut Ahli Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi digunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama. Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.
Menurut Larsen & Buss (2002) kepribadian merupakan sekumpulan trait psikologis dan mekanisme didalam individu yang diorganisasikan, relatif bertahan yang mempengaruhi interaksi dan adaptasi individu didalam lingkungan (meliputi lingkungan intrafisik, fisik dan lingkungan sosial). Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian menurut peneliti adalah sebuah karakteristik di dalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Dasar penelitian tingkah laku manusia tersebut dilakukan secara objektif melalui riset dan data empiris dengan berbagai pendekatan. Pendekatan dilakukan karena kepribadian tidak dapat dinilai dengan pasti.

Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian ada dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Pervin & John, 2001).
1. Faktor genetik mempunyai peranan penting didalam menentukan kepribadian khususnya yang terkait dengan aspek yang unik dari individu (Caspi, 2000;Rowe, 1999, dalam Pervin & John, 2001). Pendekatan ini berargumen bahwa keturunan memainkan suatu bagian yang penting dalam menentukan kepribadian seseorang (Robbins, 1998).
2. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang membuat seseorang sama dengan orang lain karena berbagai pengalaman yang dialaminya. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, kelas social, keluarga, teman sebaya, situasi. Diantara faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepribadian adalah pengalaman individu sebagai hasil dari budaya tertentu. Masing-masing budaya mempunyai aturan dan pola sangsi sendiri dari perilaku yang dipelajari, ritual dan kepercayaan. Hal ini berarti masing-masing anggota dari suatu budaya akan mempunyai karakteristik kepribadian tertentu yang umum (Pervin & John, 2001). Faktor lain yaitu faktor kelas sosial membantu menentukan status individu, peran yang mereka mainkan, tugas yang diembannya dan hak istimewa yang dimiliki. Faktor ini mempengaruhi bagaimana individu melihat dirinya dan bagaimana mereka mempersepsi anggota dari kelas sosial lain (Pervin & John, 2001). Salah satu faktor lingkungan yang paling penting adalah pengaruh keluarga (Collins et al., 2000; Halvelson & Wampler, 1997; Maccoby, 2000 dalam Pervin & John, 2001). Tuntutan yang berbeda dari situasi yang berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang (Robbins, 1998).

1.2 Pendekatan dalam Psikologi
1.2.1 Pendekatan Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
a. Id yang bersifat insting/ rasa : Eros(konstruktif) dan Fhanatos (destruktif)
b. Ego yang berdasarkan prinsip realitas, akal
c. Super Ego yang bertindak berdasarkan nilai-nilai sosial atau nila-nilai kesadaran.

1.2.2 Behaviorisme
Pendekatan ini menyatakan prilaku seorang individu di bentuk dari lingkungan sekitarnya, yaitu dari lingkungan keluarga hingga di lingkungan bermasyarakat. Contohnya adalah percobaan yang dilakukan oleh J.B. Watson tentang percobaan terhadap seorang bayi pada umur 8 bulan. Awalnya bayi sangat suka dengan semua yang berbahan lembut dan berwarna putih. Pada percobaan ini, ketika bayi ingin mendekati hal-hal yang disukainya tersebut, bayi diperdengarkan suara bantingan yang sangat kuat, begitu seterusnya. Karena percobaan ini, si bayi jadi phobia terhadap hal-hal diatas yang berwarna putih dan bertekstur lembut.

1.2.3 Humanistik
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
Pendekatan Fenomenologis terhadap kepribadian mencakup teori-teori yang disebut
“humanistik” (karena teori-teori ini memfokuskan diri pada kualitas yang membedakan manusia dengan hewan, yaitu pengarahan diri dan kebebasan memilih) dan teori-teori “self” (karena teori-teori ini menyngkut pengalaman internal dan subjektif yang merupakan makna keberadaan seseorang).

Teori Humanistik atau Aktualisasi Diri, menurut Abraham Maslow bahwa humanistik adalah studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi pondasi bagi ilmu psikologi yang lebih semesta, dan ia menyatakan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon, tetapi pencari makna kehidupan. Kemudian Maslow memulai penyelidikan terhadap orang-orang yang ia anggap self actualizer (seseorang yang memanfaatkan potensi diri dengan sangat luar biasa), seperti Albert Enstein, Jane Adams, Abraham Lincoln, William James, dan Eleanor Roosevelt.

1.2.4 Trait
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck. Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Pendekatan trait terhadap kepribadian yaitu berusaha memisahkan sifat dasar individu yang mengarahkan prilaku. Pendekatan ini memusatkan diri pada kepribadian umum dan lebih banyak berkaitan dengan pemerian kepribadian dan prediksi prilaku daripada dengan perkembangan kepribadian.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
1. Trait berasumsi bahwa orang mempunyai perbedaan beberapa dimensi atau skala kepribadian, yang masing-masing menunjukkan suatu trait.
2. Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain
3. Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
4. Trait konsisten dari situasi ke situasi
5. Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena: ada proses adaptif adanya perbedaan kekuatan, dan kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Trait sering dikatakan ”sifat”, sifat adalah tendens determinasi predisposisi dan diberinya definisi demikian: ”Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama, (Allport, 1951).
Trait mengacu pada karakteristik yang membedakan orang yang satu dengan orang yang lain secara konsisten dan relatif permanen. Ketika secara tidak formal kita menggambarkan diri kita sendiri atau orang lain dengan kata sifat seperti ”agresif”, ”cermat”, ”cerdas”, atau ”cemas”, kita menggunakan istilah-istilah trait. Kita menyimpulkan trait dari prilaku, kita tidak dapat membalik dan menggunakannya sebagai penjelasan prilaku. Jadi kita dapat menilai seseorang berdasarkan skala intelegensi, stabilitas, emosi, agresivitas, dan sebagainya (Rita and Richard Atkinson, 1993).

Para pakar psikologi yang bekerja dalam bidang teori trait berusaha:
1. Menemukan cara untuk mengukur trait.
a. Analisis Faktor
Merupakan teknik statistik yang rumit untuk mereduksi jumlah ukuran menjadi beberapa dimensi bebas.Dengan analisis factor kemudian Raymond Cattell mengidentifikasi 16 trait kepribadian dasar, Sixteen Personality Factor Questionnaire (16 PF) Mengumpulkan data melalui kuesioner, tes kepribadian, dan observsi prilaku dalam situasi kehidupan nyata selama lebih dari 3 dekade, pertanyaanya diubuat yang menggambarkan setiap trait, dan jawabannya dibuat agar mudah di skor. Ada 16 faktor yang menurutnya merupakan trait dasar yang mendasari kepribadian.
Contoh oleh raymond Cattell : Skor test rata-rata pada sekelompok pilot penerbang, sekelompok seniman dan sekelompok penulis, dengan membandingkan profil kepribadiannya.

Berikut diatas ini adalah gambar profil kepribadian ketiga kelompok tersebut. Dijelaskan bahwa semakin garis yang ada pada gambar ke atas, maka sifatnya makin mendekati sifat yang sebaliknya, misalkan pada penulis poin ke-J, garis kuning lebih condong ke atas, hal ini menerangkan bahwa seorang penulis tidak praktikal, namun imajinatif.
b. Minnesota Multiphasic Personality Inventori MMPI
Tersusun dari 550 pertanyaan tentang sikap, reaksi, emosional, gejala fisik, psikologis, dan pengalaman masa lalu) yang dijawab dengan ”benar”, salah”, ”tidak dapat dikatakan”.

Jenis-jenis Traits yang ada berhubungan dengan istilah temperamen dalam teori yang dikemukakan oleh Julius Bahnsen, yaitu Teori Bhansen. Tipologi J.Bahnsen adalah salah satu cara pendekatan menurut Julius Bahnsen. Menurutnya kepribadian seseorang ditentukan oleh tiga macam keadaan kejiwaan yaitu :
Temperamen dan Kemauan, posodynie, dan daya Susila

Temperamen ditentukan oleh 4 faktor, yaitu :
1. Spontanity nampak jika orang menentukan sikap terlepas dari pengaruh orang lain; jadi sikap atauperilaku tersebut benar-benar berpangkal pada jiwanya sendiri. Ada dua macam spontanitas, yaitu: Kuat dan lemah
2. Reseptivity adalah cara bagaimana orang menerima kesan, apakah cepat atau lambat. Juga disini secara teori terdapat dua macam reseptivitas, yaitu : Cepat dan lambat
3. Impresionability yaitu mendalam atau tidaknya pengaruh suatu keadaan terhadap jiwa. Secara teori dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Mendalam dan Tidak mendalam
4. Reaktivity adalah lama atau tidaknya suatu kesan mempengaruhi jiwa. Dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Lama dan tidak lama

Kemudian Imanuel Kant menganggap temprament sebagai corak kepekaan dan caracter corak fikiran.
Temprament mengandung 2 aspek :
1. Aspek fisiologis: konstruksi tubuh
2. Aspek psikologis: kecendrungan kejiwaan oleh komposisi darah.
a. Tempramen perasaan: Sanguinis dan Melancholis.
b.Tempramen kegiatan: Choleris dan Phlegmatis





Gambar : Contoh kemungkinan kombinasi variasi temperamen jika dimisalkan
Spontanitas individu yang diuji telah diketahui A (kuat)
Keempat golongan ini membagi traits yang merupakan banyak kombinasi dari posisi keberadaan.
1. Sanguinis (orang dengan darah ringan) : Mudah dan kuat menerima kesan tapi tidak mendalam dan tahan lama.
Ciri-Cirinya :
a. Perasaan penuh harapan, Jarang menepati janji
b. Sesuatu pada suatu waktu dipandangnya penting, tapi kemudian tidak . .difikirkan lagi. Senang menolong orang lain tapi tidak bisa jadi sandaran
c . Sukar bertaubat jika bersalah
d. Tidak mudah bosan dengan hiburan dan permainan.
2. Temprament Melancholis (orang dengan darah berat)
Ciri-cirinya :
a. Hal yang bersangkutan dengan dirinya dipandangnya penting dan selalu . .disertai dengan kebimbangan.
b. Perhatiannya terpusat pada segi kesukaran-kesukaran.
c. Tidak mudah membuat janji, karena akan selalu berusaha menepati . . .janji, jika tidak menepati akan merisaukan dirinya.
d. Tidak mudah percaya dengan orang lain.
e. Kurang dapat melihat kesenangan orang lain.
3. Temprament Choleris (orang dengan darah panas)
a. Cepat terbakar amarah, tapi cepat padam pula
b. Tindakan-tindakanya cepat tapi tidak konstan(tidak taat aturan)
c. Selalu sibuk, namun lebih suka memerintah orang lain.
d. Selalu mengejar kehormatan
e. Suka di puji secara terang-terangan
f. Suka pada sikap semu dan formal
g. Suka bermurah hati dan melindungi, untuk mendapat penghargaan.
h. Dalam berpakaian rapi dan cermat
4. Temprament Phlegmatis (Orang dengan darah dingin)
a. Lambat menjadi panas, tetapi jika panas akan tahan lama.
b. Suka dengan tugas-tugas ilmiah, kurang peka, tidak malas

Penilaian Kepribadian

Penilaian kepribadian haruslah objektif dan tidak bias, dengan begitu, kita akan lebih memahami seseorang tanpa melihat stereotip karakteristik yang dianggap sebagai ciri khas kelompok tertentu.
Penilaian kepribadian berfungsi untuk :
1. Memilih seseorang untuk menduduki jabatan tingkat atas
2. Kemampuan seseorang mengatasi stres
3. Membantu siswa memilih jurusan
4. Penelitian, co penelitian tentang hubungan kecemasan dan prestasi di sekolah.
Berikut ada beberapa metode yang digunakan dalam penilaian kepribadian:
1. Metode Observasi
Ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti, dan sistematis. Dalam hal ini observer dapat melalui tiga cara, yaitu :
a. Instrospeksi
Intro berarti dalam dan spektare berarti melihat, jadi pada instrospeksi, individu mengalami sesuatu dan ia sendiri dapat pula mengamati, mempelajari apa yang dihayati itu.
b. Instrospeksi Ekperimental
Suatu metode instrospeksi yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen-eksperimen secara sengaja dan dalam suasana yang dibuat. Metode ini berfungsi mengatasi subektivitas yang ada di metode instrospeksi.
c. Ekstrospeksi
Berarti melihat keluar, extro berarti keluar, dan speksi sama dengan spektare yang berarti melihat, jadi Ekstrospeksi adalah metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala jiwa oranglain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan pantomik.

2. Metode Proyektif
Merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan, dalam mekanisme proyeksi indvidu secara tidak sengaja menempatkan isi batin sendiri pada obyek diluar dirinya sendiri dan menghayatinya sebagai karakteristik obyek yang diluar dirinya itu. Pelopor upaya ini, Herman Rorschach seorang psikiater dari Swis dengan mencobakan sejumlah besar gambar-gambar tak struktur untuk mengungkapkan isi batin tertekan pada pasien-pasiennya. Dari sejumlah gambar-gambar, akhirnya dipilih 10 gambar yang dilakukan. Kemudian dikenal dengan nama Tes Rorschach.
3. Metode Interview
Merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Berbeda dengan angket yang pertanyaan-pertanyaannya diberikan secara tertulis, pada interview pertanyaan-pertanyaan diberikan secara lisan.
Keuntungan Metode Interview
a. Hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas,
b. Penginterview dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterview,
c. Adanya hubungan langsung antar penginterview dengan yg diinterview.
Kekurangan Metode Interview
a. Penyelidikan kurang hemat, dalam waktu dan tenaga.
b. Penginterview harus memiliki keahlian, dan itu butuh waktu lama.
c. Jika interview telah ada prasangka, maka hasilnya tidak objektif.
4. Paper and Pencil
Merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan dimana pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang dapat menjelaskan bagaimana diri kita, yang di tanyakan melalui test terulis.

Daftar Pustaka

Atkinson, Rita. Richard C Atkinson. Ernest R Hilgard. 1983. Introduction to Psychology, Eighth Edition. Harcourt Brace Jovanovich. Terjemahan Nurjanah, taufik.1993.Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga
Sujanto, Agus. Halem Lubis. Taufik Hadi. 1993. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara
Suryabrata, Sumadi. 1999.Pengembangan Alat Ukur Psikologi: Dikti Depdikbud
Suryabrata, Sumadi. 1988. Psikologi Kepribadian. Jakarta:CV. Rajawali
Ahmadi, Abu. 1998. Psikologi Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta

http://id.wordpress.com/tag/psikologi-kepribadian/

http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psikoanalisis &action=edit&redlink=1


  • GOOGLE TRANSLATOR

  • Categories

    Blog Stats

    • 12,033 hits

    kalender

    October 2014
    M T W T F S S
    « Feb    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

    flag counter

    free counters

    HCC

    Himatektro Computer Course

    my yahoo

    pagerank

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.